Rabu, 10 Februari 2010

SALAH DI MATA SALAF

SALAH DI MATA SALAF

(Bagaimana Salaf Menyikapi Kesalahan)

Abu Hamzah A Hasan Bashori Lc. M.Ag.

1. Mu'awiyyah dan Miswar

Miswar ibn Mahramah bercerita bahwa ia pernah datang (sebagai utusan) kepada Mu'awiyah, lalu Mu'awiyah pun menyelesaikan hajatnya. Kemudian Mu'awiyyah berbicara empat mata dengannya, dan berkata, "Wahai Miswar, mengapa engkau mencela para imam (pemimpin)?" Miswar berkata, "Lupakan ini, niscaya itu lebih baik." Mu'awiyah berkata, "Tidak, demi Allah, engkau harus menceritakan dirimu yang telah mencelaku." Miswar bercerita: Maka tidak ada sesuatupun yang aku cela padanya melainkan aku jelaskan semua kepadanya. Lalu Mu'awiyyah berkata:

لاَ أَبْرَأُ مِنَ الذَّنْبِ فَهَلْ تَعُدُّ لَنَا يَا مِسْوَرُ مَا نَلِي مِنَ اْلاِصْلاَحِ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، أَمْ تَعُدُّ الذُّنُوْبَ، وَتَتْرُكُ اْلاِحْسَانَ؟

"Aku tidaklah suci dari dosa-dosa. Apakah engkau wahai Miswar, menghitung apa yang telah kami lakukan dalam memperbaiki keadaan masyarakat, karena satu kebaikan dibalas dengan 10 kali lipatnya. Atau apakah engkau (hanya) menghitung dosa-dosa dan melupakan kebaikan?"

Miswar berkata: [ مَا تُذْكَرُ إِلَّا الذُّنُوْبُ ] "Tidak disebut kecuali dosa-dosa."

Mu'awiyah berkata:

فَإِنَّا نَعْتَرِفُ لِلَّهِ بِكُلِّ ذَنْبٍ أَذْنَبْنَاهُ، فَهَلْ لَكَ يَا مِسْوَرُ ذُنُوْبٌ فِيْ خَاصَّتِكَ تَخْشَى أَنْ تَهْلَكَ إِنْ لَمْ تُغْفَرْ ؟

"Kami mengaku kepada Allah dengan semua dosa yang kami lakukan, namun apakah engkau memiliki dosa-dosa dalam dirimu yang engkau takut binasa bila Allah tidak mengampunimu?"

Miswar menjawab: "Ya."

Mu'awiyah berkata:

فَمَا يَجْعَلُكَ اللهُ بِرَجَاءِ الْمَغْفِرَةِ أَحَقَّ مِنِّي، فَوَاللهِ مَا أَلِي مِنَ اْلاِصْلاَحِ أَكْثَرَ مِمَّا تَلِي، وَلَكِنْ وَاللهِ لاَ أُخَيَّرُ بَيْنَ أَمْرَيْنِ بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ غَيْرِهِ، إِلاَّ اخْتَرْتُ اللهَ عَلَى مَا سِوَاهُ، وَإِنِّي لَعَلَى دِيْنٍ يُقْبَلُ فِيْهِ اْلعَمَلُ وَيُجْزَى فِيْهِ بِالْحَسَنَاتِ، وَيُجْزَى فِيْهِ بِالذُّنُوْبِ إِلاَّ أَنْ يَعْفُوَ اللهُ عَنْهَا.

"Lalu mengapa Allah membuatmu lebih berhak terhadap harapan ampunan dari pada aku? Demi Allah, usaha perbaikan yang aku urusi lebih banyak dari pada yang engkau urusi, akan tetapi demi Allah, tidakkah aku dihadapkan pada dua pilihan antara Allah dan lain-Nya melainkan pasti aku memilih Allah atas yang lain-Nya. Sesungguhnya aku berada di atas agama yang diterima di dalamnya amal dan dibalas di dalamnya kebaikan-kebaikan, serta dibalas di dalamnya dosa-dosa jika Allah tidak memaafkannya."

Maka Miswar berkata, "Mu'awiyah mengalahkanku."

Urwah yang mendengar langsung cerita ini dari Miswar kemudian bersaksi bahwa tidaklah Miswar menyebut Mu'awiyah setelah itu melainkan ia mendoakannya dengan kebaikan. (Siyar A'lam an-Nubala`: 3/150-151; al-Mushannaf: 20717; Ansabul Asyraf: 4/47; Tarikh al-Islam: 3/80; Tarikh Baghdad: 1/208; al-Bidayah: 8/133; Ibn Asakir: 6/363)

2. Ibnu Abbas (ahli tafsir, ahli ibadah, ahli tilawah, ahli dzikir, selalu menangis saat membaca al-Qur`an, ahli khutbah, sangat mengagungkan agama Allah, wafat di Thaif pada tahun 68 H pada usia 70 tahun)

Ibnu Abbas ra berkata:

مَا بَلَغَنِي عَنْ أَخٍ مَكْرُوْهٌ قَطّ إِلاَّ أَنْزَلْتُهُ إِحْدَى ثَلاَثِ مَنَازِلِ: إِنْ كَانَ فَوْقِي عَرَفْتُ لَهُ قَدْرَهُ، وَإِنْ كَانَ نَظِيْرِي تَفَضَّلْتُ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ دُوْنِي لَمْ أَحْفَلْ بِهِ. هَذِهِ سِيْرَتِي فِي نَفْسِي، فَمَنْ رَغِبَ عَنْهَا فَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ.

"Tidaklah aku mendengar kabar yang tidak enak dari saudaraku melainkan aku pasti menempatkannya pada salah satu dari tiga posisi. Jika dia di atasku maka aku mengetahui kedudukannya, jika ia selevel denganku maka aku bermurah hati padanya. Dan jika ia di bawahku, maka aku tidak mempedulikannya. Inilah kebiasaanku dalam diriku. Barang siapa tidak menyukainya maka bumi Allah adalah luas."

.

3. Raja' ibn Haiwah

Raja' ibn Haiwah berkata:

مَنْ لَمْ يُؤَاخِ إِلاَّ مَنْ لاَ عَيْبَ فِيْهِ قَلَّ صَدِيْقُهُ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ مِنْ صَدِيْقِهِ إِلاَّ بِالْاِخْلاَصِ لَهُ دَامَ سُخْطُهُ، وَمَنْ عَاتَبَ إِخْوَانَهُ عَلَى كُلِّ ذَنْبٍ كَثُرَ عَدُوُّهُ

"Barangsiapa yang tidak berteman kecuali dengan orang yang bersih dari aib maka sedikitlah temannya, dan barangsiapa tidak rela dari temannya kecuali dengan sikap tulusnya kepadanya maka tidak pernah padam amarahnya, dan barangsiapa menyalahkan saudara-saudaranya atas setiap dosa maka banyaklah musuhnya." (Siyar A'lam 4/558; Ibn Asakir 6/118)

4. Abu Qilabah

Abu Qilabah berkata:

إِذَا بَلَغَكَ عَنْ أَخِيْكَ شَيْءٌ تَكْرَهُهُ فَالْتَمِسْ لَهُ اْلعُذْرُ جُهْدَكَ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ لَهُ عُذْراً فَقُلْ فِي نَفْسِكَ: لَعَلَّ لِأَخِي عُذْراً لاَ أَعْلَمُهُ.

"Apabila engkau mendengar dari saudaramu sesuatu yang engkau tidak suka maka carilah sebisa mungkin alasan untuknya, apabila kamu tidak menemukan alasan maka katakana dalam dirimu, 'Barangkali saudaraku memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya'."

*Baca selengkapnya di Majalah Qiblati Edisi 6 Volume 3 atau di Bundel Qiblati V




Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Feed
Postingan Terkait Lainnya :


Seja o primeiro a comentar

Posting Komentar

Blog Archive

www.voa-islam.com

About Me

Foto Saya
Abu Syifa
Tidak ada simpanan yang lebih berguna daripada ilmu. Tidak ada sesuatu yang lebih beruntung daripada adab. Tidak ada kawan yang lebih bagus daripada akal. Tidak ada benda ghaib yang lebih dekat daripada maut.
Lihat profil lengkapku

Kajian.net

Kajian.Net

Love Islam ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO