Rabu, 10 Februari 2010

MENGIKUTI SUNNAH RASUL -Shalallahu alaihi wasalam- DAN MENGHIDUPKANNYA

Abu Hamzah A. Hasan Bashori Lc. M.Ag.

1. Abu Bakar al-Shiddiq -Radiallahuanhu- (w. 13 H di Madinah)

Tidak ada Nabi yang meninggal melainkan dikubur di tempat di mana ia meninggal. Setelah Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- wafat, diangkatlah tempat tidur Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- lalu Thalhah menggali liang kubur di bawahnya, kemudian beliau dimakamkan di situ pada malam Rabo, saat matahari tergelincir ke barat. Turunlah ke dalam kuburan saat itu Ali bin Abi Thalib, Fadhl Ibn Abbas, dan Qatsam ibn Abbas -Radiallahuanhuma-, sedangkan Syaqran maula Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- menggelar hambal di bawahnya.

Kemudian Abu Bakar -Radiallahuanhu- berkhutbah setelah khutbahnya yang pertama. Di antara khutbahnya adalah:

فَعَلَيْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ بِتَقْوَى اللهِ فَاِنَّ أَكْيَسَ الْكَيْسِ اَلتَّقْوَى وَإِنَّ أَحْمَقَ الْحَمْقِ اَلْفُجُوْرُ فَاتَّبِعُوْا كِتَابَ اللهِ وَاقْبَلُوْا نَصِيْحَتَهُ وَاقْتَدُوْا بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَخُذُوْا شَرِيْعَتَهُ فَاِنَّ اللهَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوْ عَنِ السَّيِّآتِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ اْلعَلِيْمُ

"Wahai manusia, kalian harus bertakwa kepada Allah I, karena kecerdasan yang paling cerdas adalah takwa, dan kebodohan paling bodoh adalah fujur (kemaksiatan). Ikutilah kitab Allah, terimalah nasehatnya, dan berteladanlah dengan sunnah Rasul-Nya -Shalallahu alaihi wasalam- dan ambillah syari'atnya, karena Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui."( Ibnu Hibban, al-Tsiqat: 12/159)

2. Abdullah Ibnu Mas'ud al-Hudzali -Radiallahuanhu- (tinggal di Kufah dan w. 32 H di Madinah dishalati oleh al-Zubair -Radiallahuanhu-), berkata:

اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ اْلاِجْتِهَادِ فِي اْلبِدْعَةِ

"Sedang-sedang (sedikit) dalam sunnah adalah lebih baik dari pada banyak namun dalam bid'ah." (Hakim, al-Mustadrak: 1/184, no. 352, Ahmad, al-Zuhd: 198, Abul Aliyah, al-Hilyah dari Ubai ibn Ka'ab -Radiallahuanhu- : 1/252-253, al-Lalakai dari Ubay dan dari Abu Darda')

Ibnu Mas'ud -Radiallahuanhu- juga berkata:

اتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

"Berittiba'lah (mengiukutlah) dan janganlah beribtida' (membuat-buat ajaran), karena sesungguhnya kalian telah tercukupi. Setiap yang bid'ah itu adalah sesat." (Thabrani dalam al-Kabir: 9/154, no: 8770, Sunan Darimi: 1/80, no: 205, Ibnu al-Wadhdhah dalam al-Bida': 43) (Silakan melihat ucapan Ibnu Mas'ud -Radiallahuanhu- yang lain di rubrik dakwah)

3. Mu'adz ibnu Jabal al-Khazraji -Radiallahuanhu-, mirip Nabi Ibrahim u "ummatan qanitan liillah hanifa" (w. 18 H di Yordania dalam wabah tha'un pada usia 38 tahun. ), berkata :

فَيُوْشِكُ قَائِلٌ أَنْ يَقُوْلَ مَا لِلنَّاسِ لاَ يَتَّبِعُوْنِيْ وَقَدْ قَرَأْتُ اْلقُرْآنَ ؟ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيْ حَتَّى أَبْتَدِعَ لَهُمْ غَيْرَهُ فَإِيَّاكُمْ وَمَا ابْتَدَعَ فَإِنَّ مَا ابْتَدَعَ ضَلاَلَةٌ

"Hampir saja ada orang yang berkata: Mengapakah manusia tidak mau mengikutiku, padahal aku sudah membaca al-Qur'an? Tidaklah mereka itu mengikutiku hingga aku membuat hal baru untuk mereka selain al-Qur'an. Maka Jauhilah oleh kalian setiap yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa yang diada-adakan itu adalah sesat." (Sunan Abu Daud: 2/612, Abdur Razzaq: 11/363, Sunan al-Baihaqi: 10/210, al-Hilyah; 1/233, Tahdzibul Kamal: 32/219)

4. Hudzaifah Ibnul Yaman -Radiallahuanhu-, Pemilik rahasia Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- (w. 36 H), berkata:

كُلُّ عِبَادَةٍ لاَ يَتَعَبَّدُهَا اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ r فَلاَ تَتَعَبَّدُوْهَا فَإِنَّ الْأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلْآخِرِ مَقاَلاً فَاتَّقُوْا اللهَ يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ وَخُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

"Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh sahabat Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- maka janganlah kalian lakukan, karena generasi pertama tidak menyisakan ucapan bagi orang sesudahnya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai para qari', ambillah jalan orang-orang sebelum kalian!" (Muhammad ibn Abdul Wahhab, Ushulul Iman: 1/137, no: 100)

Hammam berkata: Kami berada di halaqah masjid kemudian Hudzaifah melintas melewati kami dan berkata:

يَا مَعْشَرَ اْلقُرَّاءِ، اسْلُكُوْا الطَّرِيْقَ، فَوَاللهِ لَئِنْ سَلَكْتُمُوْهُ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَيِّنًا، وَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِيْنًا وَشِمَالاً لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلاَلاً بَعِيْدًا.

"Wahai para qari' titilah jalan ini, demi Allah jika kalian menitinya niscaya kalian akan melaju dengan laju yang sangat nyata, namun jika kalian mengambil jalan ke kanan dan ke kiri niscaya kalian sesat dengan kesesatan yang jauh." (al-Marwazi, al-Sunnah: 1/30, Abdullah ibn Ahmad, al-Sunnah: 1/139, Abu Nua'im, al-Hilyah: 9/218, Ibrahim al-Harbi, Risalah fi Annal Qur'an Ghairu Makhluq: 1/58, Abul Husen al-Malthi, al-Tanbih war-Rad 'Ala Ahlil Ahwa' wal-Bida': 1/84)

5. Az-Zubair ibnul Awam al-Asadi -Radiallahuanhu-, Orang pertama kali yang menghunus pedang di jalan Allah dan salah satu hawariyyin (w. 36 H pada perang Jamal di bulan Jumada Ula)

Ketika Umar -Radiallahuanhu- ditikam (23 H), dia menjadikan dewan syura kepada 6 orang: Usman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Abdurrahman ibn Auf, Sa'ad Bin Abi Waqqash, Thalhah ibn Ubaidillah, al-Zubair ibn al-Awam. Setelah pemakaman Khalifah Umar mereka berkumpul di rumah Fatimah binti Qais al-Fihriyyah untuk bermusyawarah atas ajakan Abdur Rahman ibn Auf, maka Ibnu Auf mengawali pembicaraan, kemudian Usman ibn Affan, kemudian al-Zubair, kemudian Sa'ad ibn Abi Waqqash, kemudian Ali. Dalam kesempatan itu Zubair -Radiallahuanhu-, berkata:

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ دَاعِيَ اللهِ لاَ يَجْهَلُ، وَمُجِيْبُهُ لاَ يَخْذُلُ عِنْدَ تَفَاقُمِ اْلأَهْوَاءِ، وَلَيِّ الْأَعْنَاقِ، وَلَنْ يَقْصُرُ بِمَا قُلْتُ إِلاَّ غَوِيٌّ، وَلَنْ يَتْرُكُ مَا دَعَوْتُ إِلَيْهِ إِلاَّ شَقِيٌّ، وَلَوْلاَ حُدُوْدُ اللهِ حُدَّتْ، وَفَرَائِضُ اللهِ فُرِضَتْ، تُرَاحُ عَلَى أَهْلِهَا، وَتَحْيَا لاَ تَمُوْتُ لَكاَنَ اْلهَرَبُ مِنَ الْإِمَارَةِ نَجَاةٌ، وَالْفِرَارُ مِنَ الْوِلاَيَةِ عِصْمَةٌ، وَلَكِنْ لِلَّهِ عَلَيْنَا إِجَابَة ُالدَّعْوَةِ، وَإِظْهَارُ السُّنَّةِ، لِئَلاَّ نَمُوْتَ مَيْتَةً عَمْيَةً، وَلاَ نَعْمَى عَمًى جَاهِلِيَّةً، فَأَنَا مُجِيْبُكَ إِلىَ مَا قُلْتَ، وَمُعِيْنُكَ عَلىَ مَا أَمَرْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالمَِيْنَ.

"Amma ba'du: Sesungguhnya Da'i Allah -Shalallahu alaihi wasalam- tidak bodoh, dan para pengikutnya tidak akan hina saat berkecamuknya hawa nafsu, dan berbeloknya leher. Tidak akan berkurang dari yang aku ucapkan ini melainkan orang yang sesat, dan tidak ada yang meninggalkan ajakanku ini melainkan orang yang celaka. Seandainya bukan karena hukum-hukum Allah telah ditetapkan, dan fardhu-fardhu Allah telah diwajibkan, ia didatangkan (siang dan malam) atas pemeluknya, dan hidup tidak mati, niscaya lari dari kepemimpinan adalah jalan keselamatan dan menjauh dari kekuasaan adalah benteng perlindungan, akan tetapi sudah menjadi hak Allah wajib atas kita untuk menjawab ajakan ini dan menampakkan sunnah agar kita tidak mati dengan buta, dan tidak buta dengan buta jahiliyyah. Aku menyetujui apa yang engkau ucapkan dan mendukung apa yang engkau perintahkan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Aku minta amun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Walhamdulillah Rabbil Alamin." (Tarikh al-Thabari: 2/584, Tarikh Dimasyq: 18/404)

6. Abdullah Ibnu Abbas, Turjumanul Qur'an /penafsir al-Qur'an (w. 68 H di Thaif), berkata:

َالنَّظَرُ إِلىَ الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ يَدْعُوْ إِلىَ السُّنَّةِ وَيَنْهَي عَنِ الْبِدْعَةِ عِبَادَةٌ

"Melihat seseorang dari ahlissunnah yang mengajak kepada sunnah dan mecegah dari bid'ah adalah ibadah." (Hibatullah al-Lalakai, Syarh Ushul I'tiqad Ahli Sunnah Waljama'ah Minal Kitab Wassunnah wa Ijma'is Shahabah: 1/ 55, Ibnul Jauzi, Talbis Iblis: 1/16)

7. Abu Dzar al-Ghifari -Radiallahuanhu-, sahabat yang paling benar lahjahnya: (w. 32 di Rabdzah), berkata :

أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ r اَنْ لاَ يَغْلِبُوْنَا عَلىَ ثَلاَثٍ: اَنْ نَأْمُرَ بِالْمَعْرُوْفِ، وَنَنْهىَ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَنُعَلِّمُ النَّاسَ السُّنَنَ

"Kami diperintah oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- agar mereka tidak mengalahkan kami atas tiga perkara: memerintahkan yang baik, mencegah dari yang mungkar, dan mengajarkan sunnah pada manusia." (HR. Ahmad: 21498, Darimi: 543, Syu'abul Iman: 7374, dengan sedikit kelemahan dalam sanadnya)

8. Abdullah Ibnu Umar, (w. 73 H di Makkah dalam usia 87 tahun), berkata:

"Manusia itu senantiasa berada di atas jalan yang benar selama mereka mengikuti atsar (sunnah nabi dan sunnah sahabatnya)." (Miftahul Jannah: 48)

9. Abu Salamah Ibnu Abdirrahman -Radiallahuanhu- (W. 94 H):

Abu Bashrah berkata: "Ketika Abu Salamah datang di Bashrah saya dan Hasan Bashri mendatanginya. Dia berkata kepada Hasan: Engkau Hasan? Tidak ada di Bashrah orang yang lebih aku sukai untuk aku temui selainmu, karena saya mendengar bahwa engkau berfatwa dengan ra'yu (pendapat)mu, maka janganlah engkau berfatwa dengan ra'yumu kecuali jika hal itu adalah sunnah dari Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- atau kitab yang diturunkan." (Mukhtashar Tarikh Dimasyq: 1/1754)

10. Amir al-Sya'bi al-Kufi, berkata:

إِنَّمَا هَلَكْتُمْ حِيْنَ تَرَكْتُمُ الْآثاَرَ، وَأَخَذْتُمْ بِالْمَقَايِيْسَ

"Sesungguhnya kalian pasti binasa pada saat kalian meninggalkan Atsar dan mengambil qiyas-qiyas (analog dan logika)." (al-Hilyah: 4/320, Miftahul Jannah: 48)

11. Urwah ibn Zubair al-faqih al-Shawwam (w. 93/94 H dalam keadaan puasa), berkata:

"Mengikuti sunnah adalah pilar agama." (Miftahul Jannah: 48)

12. Muhammad Ibnu Sirin (110 H di Bashrah)

berkata:

كَانُوْا يَرَوْنَ اَنَّهُ عَلىَ الطَّرِيْقِ مَا كَانَ عَلىَ الْأَثَرِ

"Mereka (para sahabat) memandang bahwa seseorang itu berada di jalan yang benar selagi ia mengikuti atsar." (Darimi: 140, 141, dengan sanad shahih) [*]

*Majalah Qiblati Edisi 10 Volume 2



Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Feed
Postingan Terkait Lainnya :


Seja o primeiro a comentar

Posting Komentar

Blog Archive

www.voa-islam.com

About Me

Foto Saya
Abu Syifa
Tidak ada simpanan yang lebih berguna daripada ilmu. Tidak ada sesuatu yang lebih beruntung daripada adab. Tidak ada kawan yang lebih bagus daripada akal. Tidak ada benda ghaib yang lebih dekat daripada maut.
Lihat profil lengkapku

Kajian.net

Kajian.Net

Love Islam ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO