MANA CINTAMU?
(Dapatkan cinta Allah dengan cintamu)
M. Syuaib al-faiz Lc. M.Si.
Wahai hamba Allah, jika engkau ingin Allah mencintaimu maka cintailah Dia, karena Allah tidak akan mencintaimu hingga engkau mencintai Nya. Jika engkau jujur dalam imanmu kepada Nya niscara engkau mencintai Nya, dan jika engkau jujur dalam mencintai Nya pasti engkau akan mentaati Nya, karena orang yang mencinta akan menuruti siapa yang ia cintai. Banyak orang mengaku cinta kepada Allah, akan tetapi ia berbuat syirik, menyekutukan Allah dalam ibadah juga dalam cinta, ia durhaka dan membantah perintah dan larangan Nya, maka janganlah kamu seperti mereka. Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hasyr: 19)
Untuk anda yang hendak menapaki tangga menuju peringkat orang yang mencinta Allah, menuju peringkat orang yang dicintai oleh Allah, berikut ini saya kemukakan sepuluh sebab yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya Madariju As-Salikin disertai keterangan singkat.
1. Membaca al-Qur`an dengan mentadaburi (merenungkan) makna serta memahaminya.
Siapa yang ingin diajak bicara oleh Allah, maka hendaklah ia membaca al-Qur`an. Al-Hasan bin Ali mengatakan, "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian (generasi pertama umat Islam) melihat al-Qur`an ini seperti surat-surat dari Rabb mereka, maka mereka merenungkannya di malam hari, dan mencari-carinya di siang hari."
Imam Nawawi Rahimahullah mengatakan, “Kewajiban pertama kali bagi orang yang membaca al-Qur`an adalah menghadirkan pada dirinya bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Ta’ala.”
2. Bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah fardhu, karena amalan sunnah bisa menghantarkan kepada peringkat orang yang dicintai setelah derajat cinta.
Rasulullah — dalam sebuah hadits qudsi menyampaikan dari Allah swt, “Siapa yang memusuhi wali Ku, maka aku umumkan perang dengannya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa yang Aku wajibkan atasnya. Hamba Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya, jika Aku mencintainya maka Aku akan menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, tangan yang dengannya ia memukul, kaki yang dengannya ia berjalan, jika ia minta kepada Ku pasti Aku beri, dan jika ia meminta perlindungan kepada Ku pasti Aku lindungi.” (HR. al-Bukhari).
Hadits ini menjelaskan dua macam orang yang selamat dan beruntung:
a. Orang yang mencintai Allah dengan melaksanakan kewajiban Allah, berhenti pada batas-batasnya.
- Orang yang dicintai Allah, yaitu yang mendekatkan diri kepadanya setelah melaksanakan kewajiban dengan amalan sunnah. (inilah yang dimaksudkan oleh Ibnul Qayyim ketika mengatakan, “Karena ia (amalan sunnah) bisa menghantarkan kepada peringkat orang yang dicintai, setelah mencinta.”)
3. Selalu berdzikir kepada Allah dalam segenap keadaan, dengan lisan, hati dan amal serta keadaan. Maka ia akan mendapatkan bagian dari rasa cinta Allah seukuran dengan sering tidaknya ia berdzikir.
Allah berfirman yang artinya:"Ingatlah kepada Ku, pasti Aku ingat kepada kalian!" (QS. Al-Baqarah: 152)
Rasulullah menjelaskan kerugian orang yang tidak mau berdzikir kepada Allah, beliau bersabda, “Tidaklah satu kaum duduk dalam satu majelis tanpa berdzikir kepada Allah, atau membaca shalawat kepada Nabi, melainkan mereka kelak di hari kiamat akan menyesal, sekalipun mereka masuk sorga.” (HR. Ahmad) dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam takhrij Musnad.
Beliau juga bersabda, “Tidak ada satu kaum yang meninggalkan satu majelis tanpa berdzikir kepada Allah melainkan mereka berdiri dan bangkit dari (menunggui) bangkai keledai, dan mereka merasakan penyesalan yang mendalam." (dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan abi Dawud)
Karena itulah ketika ada seseorang datang menemui Nabi saw dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam itu banyak, adakah sesuatu yang bisa menghimpun itu semua? Beliau menjawab, "Lisanmu senantiasa berdzikir kepada Allah (menghimpun itu semua)." (Shahih Sunan Ibn Majah)
4. Mendahulukan apa yang dicintai oleh Allah dari pada kecintaan pribadi ketika terjadi tekanan nafsu dan condong kepada apa yang disenangi hawa nafsu sekalipun sulit.
Ibnul Qayyim ra mengatakan, "Mendahulukan ridha Allah atas ridha selain Nya, yakni ia hendaknya melakukan apa yang mendatangkan ridha Allah, sekalipun membuat manusia murka. Ini adalah derajat itsar, yang tertinggi untuk para rasul, yang tertinggi untuk para rasul ulil azmi, dan yang paling tertinggi untuk Nabi kita Muhammad saw. Ini tidak terjadi kecuali pada tiga hal: Pengendalian hawa nafsu, Menyelisihi hawan nafsu, dan Melawan setan serta para pembantunya.
5. Hati yang selalu memperhatikan nama dan sifat-sifat Allah. Persaksian dan pengetahuan hati terhadap asma` dan sifat, serta terbolak-baliknya hati seputar pengenalan terhadap masalah ini. siapa yang mengenal Allah dengan asma` dan perbuatan Nya, maka ia pasti akan mencintai Nya.
Ibnul Qayyim mengatakan, "Tidak disebut makrifat (mengenal) kecuali orang yang benar-benar mengenal Allah juga jalan yang bisa mengantarkannya kepada Allah, serta penyakit dan semua yang menghalanginya, dan ia memiliki keadaan bersama Allah yang mempersaksikan pengenalannya kepada Nya. Al-Arif itu adalah orang yang mengenal Allah dengan asma` dan sifat Nya serta perbuatan Nya, kemudian jujur dalam mu'amalahnya kepada Allah, kemudian ikhlas terhadap Nya dalam maksud dan niatnya."
Siapa yang mengingkari sifat-sifat Allah, berarti telah merobohkan pondasi Islam dan Iman, ia telah menghancurkan pohon ihsan. Bagaimana mungkin akan disebut sebagai orang yang mengenal Allah? Tentu sangat jauh!
Siapa yang mentakwil sifat-sifat Allah, seakan-akan ia menuduh keterangan Nabi saw terhadap risalah yang beliau bawah adalah kurang, tidak mungkin Nabi saw meninggalkan satu masalah yang terpenting dalam bab iman yang masih membutuhkan penjelasan dan keterangan dari orang lain, untuk menampakkan maksud yang tidak dijelaskan oleh ibadah dalam dalil-dalil syar'i.
6. Menyaksikan kebaikan dan kemurahan Allah serta nikmat Nya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, karena hal ini bisa menyebabkan cinta kepada Nya.
Atas dasar karunia dan pemberian yang agung, yang diberikan kepada manusia, hendaknya ia bangkit dan mengemban amanat besar yang dipikulkan kepadanya. Masalah ini seharusnya menimbulkan perasaan malu yang hebat ketika mengingatnya; nikmat yang diberikan begitu besar, sementara rasa terima kasih tidak sepadan.
7. Khusyu' di hadapan Allah. Ini termasuk sebab yang paling menakjubkan, yaitu totalitas hati dalam tunduk pasrah di hadapan Allah. Tidak ada yang bisa menerjemahkan makna ini selain nama dan kalimat.
Ibnul Qayyim mengatakan, "Khusyu' itu adalah makna yang merupakan perpaduan dari pengagungan, cinta, menghinakan diri, dan inkisar (ketenangan hati)."
Ulama salaf dalam hal khusyu' di hadapan Allah ini banyak riwayat dan keadaan yang luar biasa, yang menunjukkan apa yang ada dalam hati mereka berupa kejernihan dan kebersihan. Misalnya Abdullah bin Zubair Radhiyallahu anhu, jika shalat ia seakan menjadi tongkat karena begitu khusyu', ia sujud dan burung-burung turun hinggap dipunggungnya karena mengira batang pohon kurma.
8. Bersepi-sepi (dengan Allah) pada waktu sepertiga malam terakhir, untuk bermunajat kepada Nya, membaca firman-firman Nya, serta berdiri menghadap dengan segenap hati dan adab penghambaan di hadapan Nya, kemudian ia akhiri dengan meminta ampunan dan bertaubat.
Orang-orang yang bangun diwaktu malam untuk shalat tidak diragukan lagi mereka itu termasuk ahli mahabbah (orang-orang yang mencintai Allah), bahkan mereka termasuk ahlu mahabbah yang paling mulia, karena bangun mereka di malam hari untuk bermunajat kepada Allah menghimpun untuk mereka sebab-sebab mahabbah yang telah disebutkan di atas.
Karena itu, tidak heran jika makhluk terpercaya di langit, Jibril as turun kepada makhluk terpercaya di muka bumi, nabi kita Muhammad saw dan mengatakan, "Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin itu adalah ketika ia bangun dimalam hari, dan sikap mulia mereka yang tidak membutuhkan kepada manusia."
9. Berteman dengan orang-orang yang cinta kepada Allah.
Rasulullah saw bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, "Cinta Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku. Cinta Ku pasti akan meliputi orang-orang yang saling bermajelis karena Ku. Dan cinta Ku pasti dirasakan oleh orang-orang yang saling berkunjung karena Aku." Dishahihkan oleh Albani dalam kitab Misykatu Al-Mashabih.
10. Menjauhi semua sebab yang akan menghalangi antara hati dengan Allah. Hati itu jika rusak, maka seseorang tidak akan mendapatkan manfaat darinya dalam urusan dunia, ia sekali-kali tidak akan mendapatkan manfaat atau pahala di akhiratnya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ والعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ. اللَّهُمَّ أجْعَلْ حُبَّكَ أحَبَّ إليَّ مِنْ نَفْسِي وأَهْلِي وَمِنْ المَاءِ البَارِدِ
yang mencintaiMu, serta amal yang dapat mengantarkan kepada cintaMu. Ya Aallah, jadikanlah cintaMu lebih aku cintai dari pada kecintaanku kepada diriku, keluargaku dan kecintaanku kepada air yang segar."
Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.















Posting Komentar