MU’JIZAT ASMAUL HUSNA
Tidak ada satupun yang menyamai Allah dalam dzatNya. Dia Maha Esa. Tidak ada satupun yang menyerupaiNya, sebagaimana yang diterangkan dalam surat Al-Ikhlas. Jikalau demikian, bagaimana akal kita bisa mengetahui sesuatu yang tidak ada padanannya?
Kita bisa mengetahui dan memberikan gambaran tentangNya hanya melalui sifat-sifat dan nama-namaNya. Al-Qur’an --kitab terakhir yang diturunkan Allah pada manusia-- juga hadits Rasulullah –Shalallahu alaihi wa salam- telah menunjukkan kepada kita 99 sifat Allah.
Sifat-sifat yang kemudian kita sebut Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik) itu dirangkai oleh surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an bagaikan kalung indah terdiri dari untaian mutiara yang di tengahnya ada permata agung nama Allah. Marilah kita simak sebagian dari rangkaian mutiara itu:
.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (٢٢)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣)هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)
“Dialah Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyanyang. Dialah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, yang mengaruniakan kaeamanan, yang Maha Memihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada dilangit dan dibumi. Dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Hasyr:22-24).
Pada ayat diatas kita baca 13 nama-nama Allah yang paling baik (Asmaul Husna). Tidak seorangpun membaca Asmaul Husna tadi dan yang lainnya kecuali dia akan merasakan keindahan, keanggunan dan kesempurnaan, baik dia membacanya dalam bahasa Arabnya ataupun terjemahannya.Tetapi perlu diingat bahwa terjemahan tidak bisa memuat semua arti dan kandungannya.
Demi Allah, bayangkan bagaimana mungkin seorang buta huruf yang berada di lingkungan masyarakat buta huruf, 14 abad yang lalu, bisa menciptakan rangkaian Asmaul Husna seindah ini, padahal di sana belum ada kamus yang bisa dijadikan rujukan atau juga belum ada ensiklopedia di jaziarah Arab yang bisa di jadikan referensi oleh Muhammad untuk menyusunnya!? Jadi mustahil bagi Muhammad untuk menciptakan itu semua dari pikiran dan imajinasinya sendiri. Akan tetapi itu jelas wahyu yang datang dari dzat lain diluar dirinya.
Kami berani menyampaikan tantangan kepada siapapun dari para budayawan, ilmuwan dan cendekiawan dalam agama apapun selain Islam, dengan bahasa apapun untuk memeras otaknya kemudian mengungkapkan nama dan sifat Tuhan yang ada dalam pikirannya lebih dari hitungan jari-jari tangan, asal tidak mengambil dari Al-Qur’an atau literatur Islam. Kalau begitu Asmaul Husna adalah salah satu mu’jizat dari mu’jizat Al-Qur’an.
Mu’jizat lain dari mu’jizat Asmaul Husna adalah bahwa dia tidak menyebutkan nama al-Abb (Bapak). Seluruh 99 nama ini memancarkan arti kasih sayang, keindahan, kekuasaan dan keesaan. Tidak kita dapatkan di dalamnya kata bapak (Abb) meskipun sebenarnya kata itu dekat dalam pikiran dan bahkan sangat masyhur dalam kitab-kitab langit lainnya. Islam datang untuk membenarkan kitab-kitab itu dari perubahan tangan-tangan manusia, dan juga untuk menjauhkan kata itu (bapak) dari Asmaul Husna.
Orang-orang nasrani selalu mengulang dan menyebut kata itu dalam do’a-do’a dan senandung mereka: “Wahai Bapa kami yang ada di langit, sucilah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu, sebagaimana di langit, di bumi ini” (Matius 9/6).
Sebenarnya dalam do’a dan senandung diatas tidak terlihat adanya sesuatu yang bertentangan dengan hakikat Islam. Bahkan kita dengan kehalusan Islam menganggapnya sebagai kata-kata yang baik. Hanya saja kita tidak mendapatkannya termasuk dalam nama-nama dan sifat-sifat yang kita kenal yang bisa mendekatkan pengertian Allah dalam pikiran kita. Bahkan kalau kita bolak-balik halaman kitab-kitab suci mereka; perjanjian lama dan baru, kita tidak mendapatkan nama Allah kecuali al-abu (Bapa) atau ar-robb (Tuhan). Dari sini Islam berbeda dengan agama Kristen dan Yahudi modern.
Perubahan arti kata al-Abu (Bapa) dalam pemikiran nasrani merupakan permulaan terjadinya penyelewengan yang akhirnya menimbulkan -setelah beberapa abad dari dakwah al-Masih- adanya doktrin bahwa Isa Al-Masih adalah putra Allah yang diambil anak dan diutus untuk menebus dosa Adam. Padahal kalau kita baca injil mereka sendiri akan kita dapatkan bahwa di banyak tempat disebutkan kata bapak untuk makhluknya, yang berarti tanggung jawab, menjaga dan berlaku baik kepada makhlukNya. Injil menyatakan “Dia bapakmu.” Al-Masih juga mengatakan: “Dia bapakku dan bapakmu.” Di Injil juga disebutkan bapak Adam, Ya’kub, Sulaiman, Dawud dan lain lain..
Juga dalam artian yang sama dinyatakan bahwa bapa untuk Al-Masih sebagaimana juga untuk yang lainnya, tidak terdapat di dalam Injil sesuatupun yang menunjukkan bahwa kebapakan Allah untuk Al-Masih berbeda dengan kebapakan-Nya untuk semua makhluk.
Jadi benar-benar telah terjadi pergeseran arti dan perubahan maksud dari kata al-abb sebagaimana terjadi pada beberapa kata lain dari arti aslinya, seiring dengan perubahan situasi dan tempat. Contohnya kata rofiq (kawan) yang berarti persaudaraan dan persahabatan. Kemudian dalam pergulatan politik digunakan untuk menyebut orang-orang komunis dan yang sealiran. Juga kata Marih yang berarti kegembiraan dan muka yang manis. Kemudian berubah menjadi padanan kata gay dalam bahasa Inggris. Yaitu sebuah kata buruk; yang bila dinisbatkan pada orang laki-laki atau perempuan bisa berarti orang yang mempunyai kelainan seks.
Sungguh ini mu’jizat, dimana Al-Qur’an manjauhkan kata Al-Abb (bapak) dari Asmaul Husna, karena kata itu bisa mencemarkannya. Dengan demikian Al-Qur’an menjaga orang Islam dari ketergelinciran yg telah menimpa umat agama sebelumnya.
Allah berfirman:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٣٠)
“Orang-orang Yahudi mengatakan Uzair anak Allah dan orang-orang Nasrani mengatakan Al-Masih anak Allah. Itu kata-kata mereka dengan mulut mereka, mereka meniru kata-kata orang kafir terdahulu. Sungguh mereka telah dilaknati Allah. Bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah:30)
















Posting Komentar