Kalender Hijriyyah
Mamduh Farhan al-Buhairi
Kalender hijriyyah kita (umat islam) adalah simbol dan lambang keperibadian sejarah kita yang berbeda dengan yang lainnya. Kalender hijriyyah diwajibkan oleh dien. Kemuliaan kita sesuai dengan sejarah dien kita yang mulia dan kecintaan kita yang tulus kepada Nabi kita -Shalallahu alaihi wasalam-. Peristiwa hijrah Nabi saw yang merupakan isyarat kemuliaan dan berbedanya kita terhadap yang lainnya adalah suatu kebenaran untuk anak cucu kita pada masa yang akan datang. Sebuah proklamasi jati diri yang dipersaksikan kepada musuh-musuh agama kita bahwa kita adalah diri kita sendiri dan sekali-kali kita tidak akan mengikuti yang lain, selain kita umat islam sendiri.
Bukankah suatu hal yang aneh, dimana para pendahulu kita bangsa arab ketika pada masa jahiliyyah mengukir sejarah sendiri tanpa intervensi pihak lain, karena kemulian, ketinggian dan prestise mereka. Sedangkan kita umat islam adalah sebaik-baik umat yang telah dikeluarkan Allah -Subhanahu wa ta'ala- di tengah-tengah manusia, namun sekarang kita justru mengekor kepada orang lain atauumat lain yang telah dihinakan oleh Allah?!
Apakah orang-orang jahiliyyah lebih mulia, tinggi dan terhormat daripada kita sehingga kita mau mengikuti yang lain?!
Sejarah, pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu peristiwa hijrahnya Nabi kita -Shalallahu alaihi wasalam-, apakah anda bisa menerimanya?!
Apakah anda bisa menerima dan ridho, anda mengikuti orang lain dalam keadaan hina dina dan orang jahiliyyah lebih mulia dan terhoramat daripada anda?!
Apakah anda ridho segala aktifitas orang lain menjadi dasar sejarah dan peradaban manusia, akan tetapi hijrahnya Nabi kita -Shalallahu alaihi wasalam- dan sejarahnya hanyalah menjadi sebuah peristiwa masa lalu yang hanya numpang lewat dalam rangkaian sejarah dan tidak layak dianggap sebagai peristiwa sejarah yang monumental dan sempurna?!
Tidak perlu dijawab wahai saudaraku!
Jangan sampai anda berkeyakinan bahwa masalah ini sepele dan remeh! Lunturnya keperibadian islam dan hilangnya identitas islam yang membedakannya dengan umat yang lain adalah tahap awal keruntuhan dan kehancuran umat islam!
Mudah-mudahan Allah -Subhanahu wa ta'ala- meridhoi al Faruuq Umar! Alangkah bijaksananya dia, alangkah jauh pandangannya dan alangkah cerdas otaknya! Dialah yang memulai penanggalan kalender hijriyyah ini dan pertama kali menggunakannya pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 16 H. Sebab yang melatarbelakangi peristiwa ini sebagaimana yang dituturkan oleh berbagai riwayat berikut ini
Imam asy-Sya’bi -Rahimahullah- berkata: “Abu Musa al-Asy’ari -Radiallahuanhu- menulis kepada Umar -Radiallahuanhu- yang isinya: “Telah datang kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin yang tidak bertanggal.” Maka Umar -Radiallahuanhu- mengumpulkan orang-orang untuk bermusyawarah. Maka sebagian berkata: “Berilah tanggal berdasarkan kenabian Nabi kita Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam-.” Yang lain berkata: “Kita beri tanggal dari hijrahnya Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-.” Maka Umar -Radiallahuanhu- berkata: “Benar, kita beri tanggal berdasarkan hijrahnya Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- ke Madinah, karena hijrah beliau adalah garis pemisah antara yang hak dan yang batil.”
Menurut Sa’id ibnul Musayyib -Rahimahullah-: Yang berkata, “Kita mulai dari hijrahnya Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam-,” adalah Ali bin Abi Thalib -Radiallahuanhu-, ketika Umar bertanya kepada mereka, “Dari mana harus dimulai?”
Maimun bin Mihran -Radiallahuanhu- berkata: “Telah disampaikan kepada Amirul Mukminin Umar -Radiallahuanhu- sepucuk surat (sertifikat) yang tertulis “Sya’ban”. Maka Umar bertanya, “Sya’ban yang mana? Sya’ban sekarang atau yang akan datang?” Kemudian beliau mengumpulkan para pemuka dari para sahabat -Radiallahuanhu-. Beliau berkata, “Sesungguhnya harta (kas negara) telah melimpah, dan yang sudah kita bagi tidak ditemukan dengan tanggal, maka bagaimanakah caranya supaya kita sampai kepada penentuan tanggal tersebut?” Setelah berembuk akhirnya mereka sepakat untuk memulai dari tahun Hijrah. (Lihat makalah Kalender dan Tahun baru Hijriyah di edisi 04 tahun ke-3 halaman 68-72)
Maka para sahabatpun bersepakat untuk membuat kalender Hijriyah. Kemudian mereka ingin menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan pertama. Tetapi Umar berpendapat, jika demikian maka bulan-bulan yang mulia berada di dua tahun yang berbeda. Maka Umar menjadikan bulan Muharram yang sebelumnya berada di akhir, dijadikannya di awal, agar semua terkumpul di dalam satu tahun. Ada juga yang berpendapat agar dimulai dari bulan Muharram, karena bulan Muharram adalah bulan mulia yang dekat dengan bulan Dzulhijjah, bulan dimana kaum muslimin menunaikan ibadah haji mereka sebagai penyempurna rukun islam mereka, dan bulan dimana orang-orang Anshar berbaiat kepada Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- dan berkeinginan kuat untuk hijrah. Oleh karena itu, permulaan penanggalan hijriyyah adalah dimulai dari bulan yang mulia Muharram, meskipun hijrahnya Nabi ke madinah terjadi pada bulan Rabiul Awal.
Penanggalan hijriyyah bukan hanya sekedar angka atau bilangan, bukan pula sekedar petunjuk tahunan, bukan juga sekedar penanggalan yang kita tulis dengan cara seperti ini dan itu. Akan tetapi penanggalan hijriyyah lebih dari sekedar maksud diatas. Sesungguhnya penanggalan hijriyyah senantiasa mengingatkan kita pada peristiwa hijrah yang merupakan awal kebebasan identitas kita. Dan menjadi keharusan bagi umat ini untuk memiliki keunggulan di atas umat-umat yang lain di setiap situasi dan kondisi. Sebagaimana halnya penanggalan hijriyyah adalah pemersatu umat ini, kiblat umat ini, syariat umat ini, identitas khusus umat ini untuk shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya, maka penanggalan hijriyyah juga harus menjadi identitas tersendiri bagi peradaban umat islam, kebudayaan yang tumbuh di atas dasar dan warisan agama islam untuk mencapai ridho Allah.
Kita adalah umat yang unggul, sudah sepatutnya jika kita demikian, karena Allah -Subhanahu wa ta'ala- sendiri yang menginginkan kita demikian. Kalender dan penanggalan tidak hanya sekedar bilangan dan angka yang ditulis dengan metode seperti ini dan itu, ia adalah identitas umat ini, dasar ibadah, dan ikatan batin dengan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- beserta para sahabatnya yang mulia.
Kemudian diantara masalah penting berkenaan dengan peradaban adalah ketidaktahuan orang saat ini dan yang akan datang tentang sejarah penanggalan hijriyyah ini. Satu peristiwa sejarah yang telah diukir oleh pendahulu kita dan akan diwarisi oleh kaum muslimin di setiap generasi dari orang-orang yang telah mendahului kita, hingga akhirnya kita diuji dengan melestarikan penanggalan dan kalender umat lain.
Maka diantara kewajiban kita kini adalah menolong kalender dan penanggalan hijriyyah, dimana orang yang melestarikan kalender ini sedikit sekali. Hendaklah kita mempertaruhkan segala kemampuan kita untuk membela kehormatan dan sejarah kita yang mulia. Paling tidak kita menyebarluaskan tulisan kita tentang sejarah penanggalan hijriyyah ini.(AZ)
















Posting Komentar